Fakta Politeknik Lebih Unggul Dari Universitas

Saat ini, para lulusan sekolah menengah, baik Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), maupun Madrasah Aliyah (MA), tentu sebahagian besar lagi berjuang masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) pilihannya. Gampang ditebak, PTN di Pulau Jawa, akan diserbu banyak sekali peminat dari seluruh penjuru tanah air, meski kemungkinan lulus hanya 1:100 atau lebih.

Kalau dilihat dari sisi fakultas yang dipilih, maka fakultas yang secara historis selalu menjadi pilihan utama, sampai sekarang tetap amat ketat persaingannya seperti kedokteran, teknik industri, akuntansi, dan manajemen. Sebetulnya fakultas-fakultas favorit di atas masih relatif general sifatnya, dan boleh dikatakan terlalu mainstream. Padahal, makin spesifik bidang yang ditekuni, akan membuat mahasiswa lebih fokus dan cepat menyelesaikan studi, dengan catatan betul-betul sesuai dengan minat dan bakatnya.

Masalahnya, lulusan sekolah menengah masih banyak yang belum mampu mendeteksi bidang spesifik apa yang betul-betul diminatinya dan didukung oleh bakat serta kompetensi yang dipunyainya. Alhasil pilihan mereka banyak yang tergantung pada pilihan orang tua, kakak-kakaknya, atau ikut-ikutan teman. Tak heran, tak sedikit  mahasiswa yang setelah terlanjur kuliah, baru menyadari ia sangat tidak meminati bidang yang ia tekuni.

Ada mahasiswa kedokteran yang tiba-tiba tidak mau lagi menuntaskan kuliah justru setelah ia menyelesaikan teori di kelas selama 8 semester. Saat memulai kuliah praktik di rumahsakit ia merasa sangat tidak suka. Ada pula yang kuliah di arsitektur terus keluar setelah 6 semester, karena dulu mengira arsitektur berkaitan dengan hobinya menggambar. Ternyata ia merasa tidak cocok dan mulai kuliah lagi di disain grafis.

Hari Selasa (16/5) yang lalu telah dilaksanakan ujian seleksi secara serentak masuk PTN di seluruh Indonesia. Sambil menunggu hasil seleksi tersebut, tidak ada salahnya para calon mahasiswa berjaga-janga dengan mendaftar lagi ke PT lain. Nah dalam hal ini, ada baiknya tidak terfokus pada PT umum saja, tapi juga mencermati PT yang menawarkan program studi yang bukan mainstream.

Coba simak daftar PT unggulan atau yang mendapat akreditasi A dari pemerintah melalui serangkaian penilaian oleh instansi terkait. Sampai saat ini ada 49 PT yang masuk golongan unggulan ini. Menarik bahwa di samping PTN dan PT swasta yang sudah punya nama, terselip beberapa PT kedinasan serta politeknik yang masuk PT unggulan, yang mempunyai bidang studi yang relatif spesifik.

Contohnya adalah Politeknik Negeri di Surabaya, Bandung, dan Semarang. Ada lagi Universitas Multimedia Nusantara di Serpong, Universitas Pertahanan di  Jakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran di Jakarta. Beberapa politeknik negeri punya kekhususan yang berbeda. Di Surabaya ada dua politeknik negeri, yakni politeknik khusus bidang elektronika (yang termasuk akreditasi A di atas) dan bidang perkapalan.

Setelah itu, meski bukan akreditasi A, politeknik berstatus negeri yang tersebar di banyak kota untuk mendukung program pemerintah memperkuat pendidikan yang bersifat vokasi (kejuruan) juga pantas untuk dijadikan pilihan. Ada yang khusus mempelajari bidang manufaktur, bidang kemaritiman, bidang pertanian, bidang media kreatif, dan sebagainya. Lokasinya pun ada yang di kota kabupaten seperti Lhok Seumawe (Aceh), Payakumbuh (Sumbar), Tanah Laut (Kalsel), Nusa Utara (Sulut), Tual (Maluku), sampai ke Fakfak (Papua Barat).

Wajar bila pemerintah bernafsu sekali mengangkat citra politeknik di berbagai daerah, karena politeknik dibekali dengan berbagai program pelatihan yang lebih menitikberatkan praktik atau magang, sehingga ada link and match-nya dengan dunia kerja. Tak heran, beberapa perusahaan telah mem-booking mahasiswa yang akan lulus. Lokasi kuliah disebar agar mahasiswa tidak menumpuk di kota besar.  Di lain pihak, lulusan sarjana, katakanlah sarjana dengan gelar SE, SH, ST, dan sebagainya, ternyata makin menambah jumlah antrean pencari kerja saja.

Kalau begitu kenapa program S1 dari PT umum masih laku keras? Kenapa mahasiswa politeknik merasa kurang bergengsi? Ini bersangkutan dengan citra. Sarjana dengan gelar yang terpajang di belakang nama, terlihat lebih oke. Sementara politeknik dengan program D3 dan D4 tidak memberikan gelar kesarjanaan.

Sarjana, meskipun banyak yang masih menganggur, kalau nanti diterima di sebuah perusahaan besar, maka berpeluang masuk program pengkaderan pejabat di perusahaan tersebut yang disebut dengan management trainee atau Official Development Program (ODP). Sedangkan lulusan politeknik diperlakukan berbeda, meski cepat dapat kerja tapi untuk  posisi bawah. Banyak lulusan politeknik harus kuliah lagi sambil bekerja untuk meraih gelar sarjana, agar karirnya naik. Tapi tentu kuliahnya relatif tidak begitu lama, karena beberapa mata kuliah yang telah diambilnya saat di politeknik, ada yang diakui oleh PT umum.

Nah, dengan demikian, bagi setiap calon mahasiswa harus mampu menilai potensi dirinya, atau bisa minta bantuan biro psikologi. Jika memang punya kemampuan akademis yang di atas rata-rata, dan berbakat di bidang ilmiah, silakan kuliah S1 dan berlanjut di S2 dan S3. Tapi bagi yang lebih tekun dalam praktik langsung, atau punya minat spesifik seperti praktik di bidang pelayaran, kemaritiman, elektronika, pariwisata, disain grafis, dan sebagainya, silakan memilih jalur vokasi.

Bila seorang mahasiswa yang tidak begitu senang membaca untuk membedah berbagai teori, tapi memilih program S1, dan lulus dengan indeks prestasi rata-rata, maka nasibnya dalam persaingan merebut lowongan pekerjaan, juga belum tentu lebih baik ketimbang lulusan politeknik.  Banyak juga sarjana yang akhirnya terpaksa menerima posisi sebagai tenaga kontrak alias outsource di perusahaan, melakukan pekerjaan administarsi atau bahkan pekerjaan “kasar”.

Jadi, tidak selalu lulusan S1 nasibnya lebih baik dari lulusan politeknik. Ini hanya masalah dari mana bertolak dalam memulai karir. Seorang lulusan S1 memahami teori, tapi harus aktif dalam praktik saat memulai karir, agar bisa menguasai seluk beluk pekerjaan. Sebaliknya, lulusan politeknik memulainya dengan pengalaman praktik, sehingga untuk meniti karir harus diperkaya dengan kemampuan manajemen dengan menambah ilmu, baik melalui pelatihan maupun kuliah tambahan.

Artinya, baik lulusan PT umum maupun politeknik, asalkan mau gigih berjuang, baik untuk menguasai sisi teoritis, maupun sisi praktik,  maka masa depan yang cerah telah menanti. Tentu harus didukung pula oleh kreativitas yang tinggi dan kemampuan bersosialisasi.

Kesimpulannya, ada banyak pilihan dalam menentukan PT tempat kuliah. Jangan hanya mencemati PT umum saja. Politeknik dan PT lain yang bersifat spesifik juga layak untuk dipertimbangkan. Jangan terkecoh oleh citra atau unsur gengsi semata-mata.

Politeknik merupakan salah satu perguruan tinggi yang mempunyai ruang lingkup lebih kecil dari Universitas. Perguruan tinggi yang hanya menyelenggarakan Pendidikan Vokasi ini memberikan berbagai jenis gelar dan jurusan. Istilah politeknik memang berfokus pada pelatihan vokasional. Namun, politeknik juga menawarkan banyak jurusan yang tidak hanya tentang teknologi saja.

Tujuan politeknik adalah menyiapkan peserta didik dengan lulusan siap kerja dan mempunyai kemampuan profesional agar mampu menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar taraf hidup masyarakat dan kesejahteraan umat manusia meningkat.

Politeknik sendiri mempunyai sistem pembelajaran yang berbeda dari universitas. Contohnya Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), sistem pembelajaran yang dilakukan oleh PNJ lebih kepada praktik. “Sistem perkuliahan di sini karena kita politeknik jadi basicnya lebih besar praktik dibanding teori,” ujar Andriyanto (45), dosen komputer grafis di Politeknik Negeri Jakarta yang juga menjabat sebagai Kepala Lab. Komputer Teknik Grafika dan Penerbitan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *